Masalah Keluarga

TIPS SUAMI ISTRI YANG HARMONIS

02 Apr 2026 5 menit baca 2 views
TIPS SUAMI ISTRI YANG HARMONIS

Inti dari keluarga adalah keharmonisan suami dan istri sebagai pusat dari kekuatan dan kestabilan keluarga. Suami istri yang harmonis dan dan mestar menumbuhkan ketahanan dan ketenangan bagi anggota keluarga yang lainnya. Lalu bagaimana membangun keharmonisan suami istri ?

Inti dari keluarga adalah keharmonisan suami dan istri sebagai pusat dari kekuatan dan kestabilan keluarga. Suami istri yang harmonis dan dan mestar menumbuhkan ketahanan dan ketenangan bagi anggota keluarga yang lainnya. Lalu bagaimana membangun keharmonisan suami istri ? Ada  beberapa cara untuk membaangun keharmonisan tersebut :

A. Bersikap Lemah Lembut dan Penuh Kasih Sayang

Rasulullah ﷺ bersabda:


“Orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” (HR. At-Tirmidzi).

Suami harus berbicara dengan lembut, bersikap penyayang, dan memperlakukan istri dengan baik dalam setiap kondisi.  Muslim meriwayatkan hadits dalam kitab Shahihnya no.2594 dari Aisyah, Nabi bersabda.

إِنَّالرِّفْقَ لاَيَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَ عُ مِنْ شَيءٍ إِلاَّ شَانَهُ

Tidaklah kelembutan ada pada sesuatu kecuali akan menambah kebaikan pada sesuatu itu.

Hakikat kekuatan adalah pada kelembutan. Kelembutan bukanlah kekalahan namun justru kekuatan yang sulit dikalahkan Terkait hal ini, ada cerita menarik.

Suatu ketika Hafshah binti Umar bin Khattab, seorang istri Nabi Muhammad saw., melontarkan kata-kata yang menyakiti hati Shafiyyah, seorang istri Nabi Muhammad saw. yang lainnya. Hafshah ‘mengejek’ Shafiyyah dengan sebutan 'anak perempuan Yahudi'. Memang, Shafiyyah adalah anak perempuan dari Huyay, seorang pimpinan Yahudi terpandang dari Bani Nadhir. Namun kata-kata Hafshah itu membuatnya menangis. Kemudian Shafiyyah mengadu kepada Nabi Muhammad saw. terkait hal itu.

 إِنَّكِ لاَبْنَةُ نَبِىٍّ وَإِنَّ عَمَّكِ لَنَبِىٌّ وَإِنَّكِ لَتَحْتَ نَبِىٍّ فَفِيمَ تَفْخَرُ عَلَيْكِ ». ثُمَّ قَالَ « اتَّقِى اللَّهَ يَا حَفْصَةُ

Sesungguhnya engkau (Shafiyyah) adalah putri seorang nabi (Harun), pamanmu adalah seorang nabi (Musa) dan engkau pun berada di bawah naungan nabi. Maka apakah yang ia banggakan atas dirimu?” Kemudian beliau berkata kepada Hafshah : “Bertaqwalah kepada Allah wahai Hafshah”. (HR. Tirmidzi, no. 3894. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Demikianlah perkataan Nabi Muhammad saw. melipur lara istrinya yang tersakiti, Shafiyyah, merujuk buku Rasulullah Teladan untuk Semesta Alam (Raghib as-Sirjani, 2011).

B. Saling Menghargai

Suami harus menghargai pendapat dan usaha istri dalam mengurus rumah tangga atau pekerjaannya. Rasulullah ﷺ memberikan contoh dengan selalu menghormati istrinya, bahkan membantu pekerjaan rumah dengan memperbaiki sandal sendiri, memampah istri naik di kendaraan .

Rasulullah masih sering mengingat kebaikan-kebaikan Khadijah meskipun Khadijah  sudah lama sekali wafat. Ini bukti Rasullah  tidak mudah melupakan kebaikan Istri beliau. Rasulullah selalu mendengarkan pendapat dan perasaan istri-istrinya, serta berusaha untuk memahaminya.

Seringkali kasus konflik muncul karena istri merasa kurang dihargai. Ketulusan pasangan dalam bersikap baik pada pasangannya perlu mendapat apresiasi. Ini bagian dari adab.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda:

لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ

Tidaklah bersyukur kepada Allah, orang yang tidak bersyukur (berterima kasih) kepada manusia.” (HR. Abu Dawud no. 2970, Ahmad no. 7926 dengan isnad sahih, lihat Al-Shahih no. 417)

Terkait hadis di atas, Syekh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah mengatakan ada dua makna: Makna pertama, orang yang belum bisa bersyukur kepada manusia, maka syukurnya kepada Allah itu dinilai belum sempurna. Makna kedua, orang yang tidak pandai bersyukur kepada manusia, maka ia juga tidak pandai bersyukur kepada Allah. (Lihat A’malul Qulub, hal. 310)

C. Komunikasi yang Terbuka

Berbicaralah dengan jujur dan terbuka. Jangan ragu untuk menyampaikan perasaan, kebutuhan, dan harapan Anda. Dengarkan pasangan dengan empati. Jangan hanya mendengar untuk menjawab, tetapi berusaha memahami perspektifnya. Atasi konflik dengan tenang. Hindari saling menyalahkan, fokus pada solusi, bukan masalahnya.

Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah bertanya kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

هَلْ أَتَى عَلَيْكَ يَوْمٌ كَانَ أَشَدَّ عَلَيْكَ مِنْ يَوْمِ أُحُدٍ قَالَ لَقَدْ لَقِيتُ مِنْ قَوْمِكِ مَا لَقِيتُ وَكَانَ أَشَدَّ مَا لَقِيتُ مِنْهُمْ يَوْمَ الْعَقَبَةِ إِذْ عَرَضْتُ نَفْسِي عَلَى ابْنِ عَبْدِ يَالِيلَ بْنِ عَبْدِ كُلَالٍ فَلَمْ يُجِبْنِي إِلَى مَا أَرَدْتُ فَانْطَلَقْتُ وَأَنَا مَهْمُومٌ عَلَى وَجْهِي فَلَمْ أَسْتَفِقْ إِلَّا وَأَنَا بِقَرْنِ الثَّعَالِبِ فَرَفَعْتُ رَأْسِي فَإِذَا أَنَا بِسَحَابَةٍ قَدْ أَظَلَّتْنِي فَنَظَرْتُ فَإِذَا فِيهَا جِبْرِيلُ فَنَادَانِي فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكَ لَكَ وَمَا رَدُّوا عَلَيْكَ وَقَدْ بَعَثَ إِلَيْكَ مَلَكَ الْجِبَالِ لِتَأْمُرَهُ بِمَا شِئْتَ فِيهِمْ فَنَادَانِي مَلَكُ الْجِبَالِ فَسَلَّمَ عَلَيَّ ثُمَّ قَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنْ شِئْتَ أَنْ أُطْبِقَ عَلَيْهِمْ الْأَخْشَبَيْنِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

“Apakah engkau pernah mengalami satu hari yang lebih berat dibandingkan dengan saat perang Uhud?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku telah mengalami penderitaan dari kaummu. Penderitaan paling berat yang aku rasakan, yaitu saat ‘Aqabah, saat aku menawarkan diri kepada Ibnu ‘Abdi Yalil bin Abdi Kulal, tetapi ia tidak memenuhi permintaanku. Aku pun pergi dengan wajah bersedih. Aku tidak menyadari diri kecuali ketika di Qarn Ats-Tsa’alib, lalu aku angkat kepalaku. Tiba-tiba aku berada di bawah awan yang sedang menaungiku. Aku perhatikan awan itu, ternyata ada Malaikat Jibril ‘alaihis salam, lalu ia memanggilku dan berseru, ‘Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla telah mendengar perkataan kaummu kepadamu dan penolakan mereka terhadapmu. Dan Allah ‘azza wa jalla telah mengirimkan malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan melakukan apa saja yang engkau mau atas mereka.’ Malaikat penjaga gunung memanggilku, mengucapkan salam lalu berkata, ‘Wahai Muhammad! Jika engkau mau, aku bisa menimpakan Al-Akhsyabain (dua gunung besar yang ada di kanan kiri Masjidil Haram).

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak, namun aku berharap supaya Allah melahirkan dari anak keturunan mereka ada orang-orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun jua.” (HR. Bukhari, no. 3231 dan Muslim, no. 1795)

Keterbukaan membawa dampak kepada ketenangan pasangan. Menceritakan pengalaman yang indah dan yang menyedihkan kepada pasangan sering membawa kepada kesepahaman dan hilangnya sekat rahasia dan kecurigaan.

Kisah lain ketika Aisyah bercerita kepada  Rasulullah yang mendengarkan ceritanya tentang curhatan para istri tentang suaminya masing-masing. Termasu Abu Zar' yang mampu memberikan kebahagiaan kepada Ummu Zar'. Rasulullah memberikan komentar bahwa beliau menempatkan dirinya seperti Abu Zar' dalam kisah tersebut sebagai bentuk perhatian dan penghiburannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata :

كُنْتُ لَكِ كَأِبي زَرْعٍ لِأُمِّ زَرْعٍ

, “Aku bagimu seperti Abu Zar’ bagi Ummu Zar’.

Dalam riwayat lain Aisyah berkata :

يَا رَسُوْلَ اللهِ بَلْ أَنْتَ خَيْرٌ إِلَيَّ مِنْ أَبِي زَرْعٍ

Wahai Rasulullah, bahkan engkau lebih baik kepadaku dari pada Abu Zar’” (HR. An-Nasai dalam As-Sunan Al-Kubro 5: 358, no. 9139)

Sikap mau mendengar cerita pasangan memunculkan kedekatan dan keterbukaan.

D. Prioritaskan Waktu Bersama

1. Luangkan waktu khusus. Tetapkan momen untuk berkualitas bersama, seperti makanmalam bersama

2. Jaga keintiman. Selain fisik, keintiman emosional juga penting, seperti berbicara dari hati ke hati.

3. Lakukan kegiatan bersama. Temukan hobi atau aktivitas yang disukai bersama.

4. Bagaimana Rasulullah biasa ngobrol dengan Maimunah RA, sebagaimana cerita dari Ibnu Abbas RA:

بِتُّ عِنْدَ خَالَتِي مَيْمُوْنَةَ فَتَحَدَّثَ رَسُوْلُ اللهِ  ﷺ  مَعَ أَهْلِهِ سَاعَةً ثُمَّ رَقَدَ

Aku (Abbas) pernah bermalam di Bibi Maimunah, maka Rasulullah berbincang dengan istrinya (Maimunah RA) sessaat kemudian tidur. 

Di era modern sekarang dikenal dengan pillow talk, obrolan mesra suami istri menjelang tidur bersama. Ini sangant efektif untuk menyampaikan informasi, keluhan, sekedar curhatan atau hanya cerita ringan untuk keningkatkan keharmonisan.

Rasulullah bersabda :

- كلُّ شيءٍ ليس فيه ذِكْرُ اللهِ ، فهو [ لَغْوٌ ] وسَهْوٌ ولَعِبٌ ، إلا أَرْبَعَ [ خِصالٍ ] : ملاعبةُ الرجلِ امرأتَه ، وتأديبُ الرجلِ فَرَسَه ، ومَشْيُه بين الغَرَضَيْنِ ، وتعليمُ الرجلِ السباحةَ

“Segala yang tidak ada zikrullah di dalamnya termasuk lahwun (kesia-siaan), sahwun (kelalian) dan la’ibun (main-main)  kecuali pada empat keadaan : bermain-main dengan istri, seorang laki –laki yang melatih kudanya, berlatih panahan, latihan berenang.” 

Allah memasukkan bersendagurau suami istri adalah bukan termasuk hal yang sia-sia karena ini bagian dari mencairkan suasana dan melepas kebosanan. Hal ini menegaskan bahwa Islam sangat memperhatikan kehangatan rumah tangga dengan memberikan pahala untuk “senda gurau” dengan istri.  Di zaman dimana kesibukan kerjasangat mendominasi aktifitas suami istri, maka suasana kehangatn menjadi langka dan hambar.

E. Saling Menghormati :

○ Hargai perbedaan pendapat dan kepribadian pasangan.

○ Jangan meremehkan pasangan di depan orang lain.

○ Hormati waktu dan ruang pribadi masing-masing.

 

Ketika Aisyah menampakkan kecemburuan kepada Rasulullah di depan sebagian sahabat, Sikap beliau tidak merendahkan Aisyah RA, namun beliau bersikap obyektif dan menghargai sikap tersebut.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu pernah berada di sebagian istrinya (yaitu ‘Aisyah). Salah satu istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (Ummahatul Mukminin yaitu Zainab binti Jahsy) mengutus pembantunya untuk mengantarkan piring berisi makanan. Lantas ketika itu ‘Aisyah memukul piring tersebut. Piring tersebut akhirnya pecah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengumpulkan bagian yang pecah tersebut. Kemudian beliau meletakkan makanan di atasnya, lalu beliau perintahkan, “Ayo makanlah kalian.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menahan piring tersebut hingga selesai. Piring yang bagus diserahkan beliau, lantas piring yang pecah ditahan.” (HR. Bukhari no. 2481).

Ketika itu Rasulullah menemui sejumlah tamu yang merupakan sahabat dekat beliau. Tiba-tiba terdengar suara piring pecah dengan nyaring. Ternyata Aisyah radhiallahu anhu, istri Rasulullah baru saja memukul piring berisi makanan untuk Rasulullah, yang dibawa oleh pembantu Zainab. Piring tersebut pecah dan makanannya jatuh berantakan.

Mengetahui hal tersebut, Rasulullah tidak marah, beliau dengan tenang mendekati Aisyah dan pembantu Zainab. Lalu memunguti makanan yang berhamburan tersebut dan meletakkannya di piring kemudian membawanya ke depan untuk dimakan bersama para tamunya.

Beliau mengatakan kepada para tamunya : “ Makanlah. Ibu kalian sedang cemburu.”

Beliau juga mengganti piring yang pecah dengan piring baru yang utuh untuk dibawa kembali oleh pembantunya Zainab.

Masya Allah begitu lembutnya akhlak Rasulullah. Beliau memaklumi ketika itu Aisyah radhiallahu anhu sedang cemburu karena di hari giliran Aisyah, Zainab, istri beliau yang lain mengirimkan makanan untuknya, sehingga hal itu menimbulkan cemburu pada diri Aisyah yang spontan memecahkan piring sebagai bentuk ekspresi kecemburuannya.

Rasulullah menyelesaikan masalah dengan bijak dengan tidak memarahi Aisyah dan membiarkannya, karena beliau memahami bahwa menegur istri yang sedang cemburu, hatinya tertutup emosi.

Beliau mengganti piring yang dipecahkan Aisyah, karena beliau memahami bahwa tindakan merusak barang orang lain tidak dapat dibenarkan, sehingga harus diiganti dengan barang yang serupa.

Di hadapan para sahabat beliau tetap bersikap tenang dan tidak memarahi Aisyah di depan umum. Beliau mengendalikan emosinya dengan baik sehingga tidak menimbulkan masalah baru yang lebih pelik.

 

F. Menjaga Lisan

○ Hindari berkata kasar, mencaci, atau merendahkan pasangan

○ Ucapan yang baik akan membuat hati istri menjadi tenang dan mencintai suaminya.

○ Kalau selama ini anda sangat lembut pada orang lain, maka istri lebih berhak untuk kita sikapi lebih lembut

Rasulllah mengatakan : Ada orang yang mengucapkan satu kata yang dibenci oleh Allah, kemudian dia tidak peduli setelah itu, maka Allah mencampakkan di dalam neraka. Ini maknanya betapa pentingnya menjaga lisan, utamanya pada pasangan. Jika selama ini kita sangat khawatir jika kata-kata kita menyakiti teman dan tetangga, maka seharusnya kita lebih khawatir kalau kata-kata kita menyakiti pasangan.

G. Saling Mendukung

○ Jadilah pendukung utama pasangan Anda, baik dalam karier, mimpi, maupun saat menghadapi tantangan.

○ Berikan apresiasi untuk usaha yang dilakukan pasangan, sekecil apa pun itu. Kita jarang mengucapkan “terima kasih” kepada pasangan kita, padahal ucapan ini bisa kita berikan kepada orang lain, bahkan yang baru kita kenal.

○ Tawarkan bantuan saat pasangan mengalami kesulitan tanpa diminta. Rasulullah pernah mempersilahkan istrinya – shofiyah -- untuk menginjak lutut beliau agar istrinya bisa naik di kendaraan.

○ Bagaimana Ummu Salamah RA memberi masukan pada Nabi SAW pasca perjanjian Hudaibiyah dan beliau melaksanakan saran istri beliau.

Dukungan Khadijah yang total kepada Rasulullah menunjukkan bagaimana keberhasilan suami sangat dipengaruhi oleh dukungan istri. Khadijah mengerahan pengaruhnya, hartanya dan nyawanya untuk perjuangan suami tercinta.

H. Jaga Keintiman Fisik dan Emosional

○ Pelukan, ciuman, dan kontak fisik lainnya memperkuat hubungan.

○ Berkomunikasi tentang kebutuhan fisik. Diskusikan secara sehat tentang keinginan atau preferensi masing-masing.

○ Beri perhatian emosional. Jadilah pendengar saat pasangan berbicara tentang perasaan atau kekhawatirannya.

Rasulullah mencium istri di bulan Ramadhan, namun bukan mencium karena syahwat. Hal-hal sederhana dalam rangka merawat  kemesraan diperlukan, sebagai bentuk perhatian dan menjalin kedekatan. Rasulullah pernah mempersilahkan Aisyah untuk menempelkan pipinya di pipi Rasulullah SAW saat menyaksikan pertunjukan permainan tombak yang dilakukan oleh orang-orang Habasyi di masjid pada hari raya Ied.

Sebenarnya Aisyah waktu itu ingin menikmati suasana itu lebih lama. Kedekatan secara fisik memberikan ketentrama.

I. Bersikap Romantis

Rasulullah ﷺ adalah teladan terbaik dalam hal ini.

Bagaimana Rasulullah Mengajak istri beliau melewati kebersamaan dengan romantis sepertimandi bersama, jalan-jalan bersama, Minum dengan gelas yang sama. Beliau memanggilistrinya dengan panggilan manis, membantu pekerjaan rumah, dan selalu menunjukkan cintakepada istri-istrinya.

كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ كِلاَنَا جُنُبٌ، وَكَانَ يَأْمُرُنِي، فَأَتَّزِرُ، فَيُبَاشِرُنِي وَأَنَا حَائِضٌ، وَكَانَ يُخْرِجُ رَأْسَهُ إِلَيَّ وَهُوَ مُعْتَكِفٌ فَأَغْسِلُهُ وَأَنَا حَائِضٌ صحيح] - [متفق عليه] - [صحيح البخاري(

Aku pernah mandi bersama Nabi ﷺ dari satu bejana. Saat itu kami berdua sedang junub.Beliau pernah menyuruhku (memakai kain) lalu aku pun memakainya, lalu beliaumencumbuiku (tidak sampai jima’) padahal aku sedang haid. Beliau juga pernah menjulurkankepalanya kepadaku saat beliau iktikaf, lalu aku membasuh kepalanya dan saat itu akusedang haid.

 

عن عائشة رضي الله عنها أنها كانت مع النبي صلى الله عليه وسلم في سفر. قالت: فسابقته فسبقته على رجلي، فلما حملت اللحم سابقته فسبقني. فقال: "هذه بتلك السبقة"، وفي لفظ: سابقني النبي صلى الله عليه وسلم فسبقته، فلبثنا حتى إذا أرهقني اللحم سابقني فسبقني. فقال: "هذه بتلك"

Aisyah RA berkata, "Aku ikut bersama Rasulullah SAW dalam sebuah perjalanan. Pada saat itu tubuhku masih ringan. Kami singgah di sebuah tempat dan Nabi SAW memerintahkan para sahabatnya untuk meneruskan perjalanan. Lalu Nabi SAW berkata kepadaku, "Mari kita lomba lari! “Ternyata aku mengalahkan Nabi SAW. Kemudian dalam perjalanan lain aku juga ikut. Pada saat itu tubuhku sudah berat (gemuk). Nabi SAW berkata kepadaku, "Mari kita lomba lari!" Ternyata Nabi SAW mengalahkan aku. Nabi bersabda sambil menepuk pundakku, "Kemenangan ini menutupi kekalahan yang dulu" (HR. Abu Daud dan Nasa'i).

 

​Momen sederhana tapi Aisyah sangat mengenang peristiwa itu. Dan bagaimana Rasulullah juga masih mengingat lomba yang pertama. Artinya, Rasulullah juga terkenang dengan peristiwa indah yang mereka lewati bersama.

Gelas bekas Aisyah minum juga dipakai Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam, hingga potongan makanan pun Rasulullah santap tepat bekas gigitan istrinya itu.  Dari Aisyah Radhiyallahu anha, Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam bersabda:

كنت أضع الإناء على في وأنا حائض ثم أناوله للنبي صلى الله عليه وسلم فيضع فاه على موضع في وآخذ العرق وأنا حائض ثم أناوله فيضع فاه على موضع في

"Aku minum air pada sebuah gelas dalam kondisi haid, kemudian aku menyerahkannya kepada Nabi Shallallahu alaihi wassallam. Tiba-tiba Nabi Shallallahu alaihi wassallam menaruh bibirnya persis di bekas tempat aku minum. Saat aku makan sepotong daging, kemudian aku serahkan sisanya kepada Nabi Shallallahu alaihi wassallam, Beliau juga menaruh bibirnya persis di bekas gigitanku." (HR Ibnu Hibban)

J. Beradaptasi dengan Perubahan

Hubungan akan berubah seiring waktu; terbukalah untuk beradaptasi dengan perubahan hidup, seperti pekerjaan, usia, atau anak. Terus belajar dan berkembang bersama sebagai pasangan.